Minggu, 16 Januari 2022

Rekonsiliasi Afeksi


Pada doa yang tak kunjung diaminkan semesta
Aku mulai merasa sepi di garis cakrawala
Pada jalan-jalan dan pijaran lampu-lampu kota
Aku sudah bosan diperbudak realita

Kau tetap berjalan semakin jauh
Sedang aku seperti terpenjara di jeruji besi
Diantara pintu paling bimbang
Kau masih saja tak membiarkan aku menang
Kedua matamu masih menjadi sorot paling gemintang
Menatap teduh diantara celah-celah pohon-pohon rindang

Harusnya kau tau,
Bertahan mati-matian tidaklah semudah itu
Harusnya kau paham
Bayangmu tak turut tenggelam
Meski mata telah terpejam

Justru kau mencipta alur cerita yang lebih riuh di rotasi kepala
Mengusik ketenteraman jiwaku hingga setengah gila

Aku telah terbiasa dengan kepergian
Menjadi asing atas kehadiran
Persetan dengan perih
Bahwa kau tak bisa ku raih
Aku tak akan pernah patah
Meski harapan sudah benar-benar punah

Dan aku masih tetap ada tanpa kau pinta
Terus percaya pada apapun keputusan Maha Pencipta -

Senin, 29 Juni 2020

MEGA HARAP

[MEGA HARAP]

"Pintalah apa saja pada Pencipta ;
Terlalu sedikit jika satu, boleh dua, tiga, atau seberapapun yang ingin kau punya".
Kalimat itu selalu terngiang di telinga. Tenggelam di alam bawah sadar hingga tak sekalipun terlupa.
.

Kita memang sama sekali tak bisa memegang stir kendali. Tapi skenario terbaik telah tersedia dengan alur yang sedemikian rupa. Ending terbaik pun telah diatur Sang Maha Sutradara.

Kita?
Kita hanya perlu percaya.

Ahh, terimakasih untuk hari-hari beratnya. Sulit dipercaya, sejauh ini bisa melewatinya.
.

Konflik seorang anak dengan keadaan ekonomi keluarga misalnya ;
Ia tak terlalu bodoh ; kepandaiannya di sekolah juga sedikit diatas rata-rata. NEM lulusan Sekolah Dasarnya pun cukup memenuhi syarat Masuk SMP Favorit. Hanya saja ia hanya harus menerima segala keterbatasannya. Toh dimanapun sekolahnya tak menentukan seberapa sukses masa tuanya.
Kata mama ; "Belajarlah yang rajin, kelak kau harus bisa mengangkat derajat dan martabat keluarga, supaya tak lagi di hina-hina".
.

Putri pertama memang seperti bahan uji coba. Tapi larutan seperti apa yang ingin kita cipta, orang tua hanya perlu demokratis dan bijaksana.
.

"Bagaimana bisa kau masuk SMA disana? Lalu bagimana nanti nasib kita?".

Begitulah resistensi yang diajukan mama papa. Dengan formulir dan persyaratan seadanya tekadnya tak bisa lagi dihalangi.
"Tak ada jalan lain. Maka ku tempuh jalur beasiswa ini". Katanya dengan penuh percaya diri dan semangat yang masih terus membara hingga hari ini.
.

Beruntung bagi mereka yang 'terbentur' lebih awal. Beruntung bagi 'Mereka' yang sudah mengkokohkan pondasi dalam hatinya lebih mula. Dan hari ini pasti ia telah sekuat baja. Atau mungkin telah menjadi kebanggaan keluarga?
.

Kini Putri kesayangan ayah bundanya telah tumbuh besar dan tamat SMA. Seperti tak jera, lagi-lagi Ia membangun harap yang lebih membara.
.

"Aku ingin Sarjana" Katanya.
"Tak ku ijinkan siapapun merendahkan kita"
"Nanti biar ku bayar lunas mulut-mulut biadab mereka dengan segala bunga-nya"
.

Mama papa turut berkaca-kaca. Putri manisnya ini memang sangat keras kepala. Tapi segala impiannya tak boleh mati begitu saja. Maka sampai hari ini mereka tak pernah lagi mengajukan resistensi.
.

Menjadi lulusan terbaik ialah satu bukti dari tekad besarnya membahagiakan keluarga. Bekerja di perusahaan ternama dengan jabatan dan gaji yang cukup adalah salah satu bonus dari setiap ketekunannya.
.

Ohh tentu bukan itu saja.. Kelak ia pun akan menjadi wirausahawan kaya raya.
.

Imaji liar dalam kepala memang selalu saja mengembara dengan suka cita. Biar saja. Nanti cobalah visualkan, supaya cepat menjadi nyata.

Tak mengapa. Nanti biar tangan tangan Tuhan yang bekerja mewujudkan apapun pinta seorang hamba.
.

Peradaban Manusia,
[Mega Harap],
📍 Kota Bercahaya,   2020

Selasa, 05 Maret 2019

RAPUH



Aku,
Aku lebih rapuh dari biasanya
Kemarin ku cium tangan ayah bunda tanpa seucap apa-apa
Ku langkahkan kaki menjauh dari pintu
Kata mereka,
Tak ada secuil senyum diwajahku

Aku,
Aku lebih rapuh dari biasanya
Lebih rapuh dari kayu yang digerogoti rayap-rayap disudut sana
Diuji bertumpuk-tumpuk gunungan prahara
Pun silih berganti perkara-perkara

Aku,
Aku lebih rapuh dari biasanya
Di kepalaku segalanya beku
Buntu..
Tak ku temui temaram lilin yang menyala
Sekalipun dihujani paksa,
Sia-sia..

Aku,
Aku lebih rapuh dari biasanya
Bagai ranting kering yang patah terinjak kaki-kaki manusia
Menuturkan kata hati yang tak sempat terucap pada api
Hingga membentengi diri dari suara tawa yang menyakiti

Aku,
Aku lebih rapuh dari biasanya
Bahkan untuk berpura-pura saja aku tak bisa
Seperti biasanya
Melipat duka, menggelar suka
Mama pun turut meneteskan air mata pada akhirnya

Aku akan pulang dengan lapang
Aku akan kembali dengan berita bahagia
Seperti maumu aku akan pulih seperti sedia kala


Purwokerto, 06.03.19

Minggu, 17 Februari 2019

WAKTU SILAM

Jalan dipersimpangan sana masih sama, seperti pertama kali kau melewatinya. Kita berjalan berdua menyusuri jalanan basah selepas hujan reda. Selekas adzan maghrib berkumandang dari surau-surau disekitarnya.
 
Gang diujung sana masih seperti yang kau tau. Sempit.. sepi.. dengan deretan rumah yang layaknya kota-kota padat penghuni. Ku yakin sedikit banyak kau pasti masih mengingatnya.
Rumah yang paling ujung di gang itu juga masih sama. Rumah berlantai dua menghadap arah terbenamnya surya. Dengan cat putih dan pintu coklat. Yahh, aku masih tinggal disana. Entahlah, untuk melepasnya rasanya aku masih belum rela.

Ruangan didalamnya pun masih sama. Dengan meja kaca dan sofa hijau tua motif bunga-bunga. Sebuah televisi lama disebelah tangga. Diantaranya ada lorong menuju dapur minimalis yang apa adanya.

Aku masih suka duduk sendiri disana. Mengingat banyak hal yang masih belum bisa ku sudahi. Aku pernah menyuguhkan secangkir teh dan bukan kopi. Segenap jiwa dan sepenuh hati. Kita bercakap ringan ditemani sisa tetesan hujan diluar tadi. Ah, semua itu abadi diingatanku.

Sampai hari ini, semuanya masih sama. Jalan dipersimpangan sana selalu basah jika hujan. Gang diujung itu masih sepi dan sempit. Rumah yang paling ujung pun tak berubah sama sekali. Dan ruangan didalamnya pun masih seperti yang dulu. Disana aku masih setia mengarsipkan kenangan tentangmu.

Mungkin itu salah satu sebabnya aku masih belum rela meninggalkannya. Sebab disetiap sudut kota kau selalu menggoreskan cerita. 

.
February 16th, 2019

Senin, 12 November 2018

SEHABIS HUJAN

Hujan turun sejak sore tadi. Membasahi setiap sudut kota ini. Kini hanya meninggalkan jejak basah di jalan-jalan yang ku lewati.  Pernah ada cerita yang tercipta. Dijalan yang sama, di jalur yang sama. Cerita yang pada akhirnya tak punya arti apa-apa. Sudahlah ini rumit. Lupakan saja. . .
Gang menuju tempat tinggalku (Bording House) ada di ujung sana. Dari pertigaan masih lurus saja. Nanti silahkan ambil kiri dan tepatnya ada di paling ujung gang itu. Kau pasti akan menemukannya disana. Menghadap ke arah terbenamnya surya. Dengan pintu coklat dan jendela kaca-kaca.
Aku merogoh tas dan mencari sesuatu. Yahh, kunci pintu. Setelah membukanya, aku memasuki bangunan itu dan kembali menutupnya dengan segera. Lantas pergi kedapur dan menyalakan kompor untuk memasak air. Aku kembali ke ruang tamu dan menyalakan televisi. Entahlah apa yang sebenarnya ingin ku tonton. Setidaknya aku sedikit terhibur dengan tayangan yang menurutku monoton.
Beberapa saat kemudian, aku terduduk di sofa berwarna hijau ditemani secangkir teh tarik kesukaanku. Anganku masih saja melayang jauh. Tiba-tiba saja aku kembali bertemu dengan ingatan beberapa waktu lalu. Rasanya rindu, berada di ruangan yang sama, di sofa yang sama. Memecahkan tawa dan bahagia yang tiada terkira. Pernah. Yah, hanya sekedar pernah.
Begitupun masih ditempat yang sama. Di ruangan yang sama aku sering menghidangkan makanan yang ku masak sendiri untuk makan pagi, atau mungkin hanya sekedar keisengan untuk menemani menonton televisi di malam hari. Atau bahkan mungkin hanya sekedar untuk duduk bersama, bersendau-gurau menepis keheningan yang ada.
Masih di ruangan yang sama. Di tempat duduk yang sama. Aku pernah menyuguhkan secangkir teh manis untuk seseorang yang aku tau ia tak menyukai kopi. Menyodorkan sepiring nasi goreng untuknya makan malam, sebab aku tau Ia pun pasti belum makan. Tak lupa segelas air putih telah tersedia di meja. Salahnya hanya saja aku tak tau sebelumnya, bahwa ternyata rasa nasi gorengku terlalu pedas menurutnya.
Di ruangan yang sama. Kami mendengarkan sesuatu dari telepon genggamnya dengan ear phone yang sama. Tak ada duka hanya suka yang ada disana. Dengan sisa-sisa tetesan hujan di luar aku kembali teringat sebuah senyum yang pernah mengembang di bibirnya. Bahwasannya esok hari dan lusa kami akan sama-sama menempuh perjalanan, dan akulah seseorang yang paling bahagia.
Aku mendapati teh tarikku di meja telah berubah dingin. Anganku yang hangat pun hilang tertiup angin. Untuk terakhir kalinya aku kembali mengaduk teh tarikku. Dan segala yang terkenang pun turut larut dalam cangkirku.

Pwt, 9 Nov 2018