Gang diujung sana masih seperti yang kau
tau. Sempit.. sepi.. dengan deretan rumah yang layaknya kota-kota padat
penghuni. Ku yakin sedikit banyak kau pasti masih mengingatnya.
Rumah yang paling ujung di gang itu juga
masih sama. Rumah berlantai dua menghadap arah terbenamnya surya. Dengan cat
putih dan pintu coklat. Yahh, aku masih tinggal disana. Entahlah, untuk
melepasnya rasanya aku masih belum rela.
Ruangan didalamnya pun masih sama.
Dengan meja kaca dan sofa hijau tua motif bunga-bunga. Sebuah televisi lama
disebelah tangga. Diantaranya ada lorong menuju dapur minimalis yang apa
adanya.
Aku masih suka duduk sendiri disana.
Mengingat banyak hal yang masih belum bisa ku sudahi. Aku pernah menyuguhkan
secangkir teh dan bukan kopi. Segenap jiwa dan sepenuh hati. Kita bercakap ringan ditemani sisa tetesan hujan
diluar tadi. Ah, semua itu abadi diingatanku.
Sampai hari ini, semuanya masih sama.
Jalan dipersimpangan sana selalu basah jika hujan. Gang diujung itu masih sepi
dan sempit. Rumah yang paling ujung pun tak berubah sama sekali. Dan ruangan
didalamnya pun masih seperti yang dulu. Disana aku masih setia mengarsipkan
kenangan tentangmu.
Mungkin itu salah satu sebabnya aku
masih belum rela meninggalkannya. Sebab disetiap sudut kota kau selalu menggoreskan
cerita.
.
February 16th, 2019
