Kamis, 08 November 2018

SEPENGGAL KISAH DARI BUMI PERANTAUAN

Apakah kamu tau, rasanya ketika kamu tidak pernah mendapatkan apa yang kamu mau?? Kamu pernah?? Kita sama. Perihal cinta misalnya? Kamu menyukainya sejak lama dan ia tak pernah tau tentang hal itu. Atau bahkan mungkin kau menyukainya tetapi ia memilih orang lain menjadi tempatnya pulang. Itu menyakitkan sekali bukan??
Aku ingat ketika 2 tahun lalu. Ketika tanah rantau menjadi persinggahan hidupku pada waktu itu. Menjadi tempat pelarian bagiku dari kekejaman dunia yang tak berpihak dengan jalan pikiranku. Aku melabuhkan hidup dibahunya. Saat itu seseorang mengajakku pulang bersamanya ke kampung halaman. Hingga ia akan menanggung semua biaya kepulanganku. Seseorang yang tak ku sangka-sangka akan mengucapkan hal itu. Aku sangat senang dengan ajakannya. Terlebih ia adalah seseorang yang ku sukai sejak lama waktu. Aahh, jika kau di posisiku, apa jawaban yang akan kau berikan padanya?? Pasti tak bisa menolak bukan?? Begitu pun dengan hatiku mengatakannya.
Tapi pada kenyataannya aku menolaknya. Bukan karena aku tidak mau. Tapi keadaan yang sangat tidak memungkinkan untuk pulang. Aku masih mengejar target kehidupanku kedepannya. Meskipun pada kenyataannya keberadaanku di tanah rantau memang sedang gusar dan buyar. Tapi entahlah, perasaanku mengatakan hal lain atas kepulangannya itu. Kepulangan yang terkesan mendadak dan bahkan waktunya begitu singkat.
Dan di saat aku merasa bersalah padanya karena telah mengecewakannya, beberapa hari kemudian aku tau perihal kepulangannya. Adalah menyatakan cintanya kepada seseorang yang sudah menjadi pilihan hatinya yang kesekian kali. Jika kau berada di posisiku pada waktu itu apa perasaanmu?? Lalu bagaimana denganku waktu itu jika aku menerima ajakannya?? Apakah aku akan bunuh diri di rel kereta?? Atau aku akan berdiri di jalan raya menanti sebuah bus menabrakku?? Atau aku akan loncat dari atas bukit yang tinggi?? Atau mungkin aku gantung diri di atas gedung?? Entahlahh. .!!
Yang ku tau perasaan hatiku begitu sangat hancur ketika itu. Seperti halnya sedang mendaki gunung, menikmati hawa dingin dan indahnya pemandangan, tiba-tiba diterpa badai yang begitu besar. Yang menahan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Tapi apa yang bisa aku lakukan?? Tentang aku mencintainya, biar saja itu menjadi urusanku. Dan bagimana dia terhadapku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Terserah padanya saja untuk itu. Nyatanya aku harus melanjut hidup dan menggapai sesuatu yang menjadi tujuan awalku. Masih banyak yang belum aku bereskan.
Bumi perantauan begitu mengajarkan banyak hal bagiku. Bagaimana seharusnya memaknai hidup. Hingga perihal asmara, mengapa dan bagaimana seharusnya bersikap dewasa dalam hal cinta. Urusan cinta adalah poin ke sekian dari list hidup (menurutku). Dan mengapa pada waktu itu aku tak menuruti keinginan sesaat?? Sebab aku merasa sedang diuji perihal prioritas. Meskipun aku ingin, tetapi jika tak berizin apa yang bisa dilakukan?? Aku mungkin tidak mendapatkan apa yang aku inginkan, tapi nyatanya Tuhan telah memberikan berlipat ganda segala sesuatu yang aku butuhkan.
.
.
Nusadadi, Sumpiuh 24/06/18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar