Selasa, 05 Maret 2019

RAPUH



Aku,
Aku lebih rapuh dari biasanya
Kemarin ku cium tangan ayah bunda tanpa seucap apa-apa
Ku langkahkan kaki menjauh dari pintu
Kata mereka,
Tak ada secuil senyum diwajahku

Aku,
Aku lebih rapuh dari biasanya
Lebih rapuh dari kayu yang digerogoti rayap-rayap disudut sana
Diuji bertumpuk-tumpuk gunungan prahara
Pun silih berganti perkara-perkara

Aku,
Aku lebih rapuh dari biasanya
Di kepalaku segalanya beku
Buntu..
Tak ku temui temaram lilin yang menyala
Sekalipun dihujani paksa,
Sia-sia..

Aku,
Aku lebih rapuh dari biasanya
Bagai ranting kering yang patah terinjak kaki-kaki manusia
Menuturkan kata hati yang tak sempat terucap pada api
Hingga membentengi diri dari suara tawa yang menyakiti

Aku,
Aku lebih rapuh dari biasanya
Bahkan untuk berpura-pura saja aku tak bisa
Seperti biasanya
Melipat duka, menggelar suka
Mama pun turut meneteskan air mata pada akhirnya

Aku akan pulang dengan lapang
Aku akan kembali dengan berita bahagia
Seperti maumu aku akan pulih seperti sedia kala


Purwokerto, 06.03.19

Minggu, 17 Februari 2019

WAKTU SILAM

Jalan dipersimpangan sana masih sama, seperti pertama kali kau melewatinya. Kita berjalan berdua menyusuri jalanan basah selepas hujan reda. Selekas adzan maghrib berkumandang dari surau-surau disekitarnya.
 
Gang diujung sana masih seperti yang kau tau. Sempit.. sepi.. dengan deretan rumah yang layaknya kota-kota padat penghuni. Ku yakin sedikit banyak kau pasti masih mengingatnya.
Rumah yang paling ujung di gang itu juga masih sama. Rumah berlantai dua menghadap arah terbenamnya surya. Dengan cat putih dan pintu coklat. Yahh, aku masih tinggal disana. Entahlah, untuk melepasnya rasanya aku masih belum rela.

Ruangan didalamnya pun masih sama. Dengan meja kaca dan sofa hijau tua motif bunga-bunga. Sebuah televisi lama disebelah tangga. Diantaranya ada lorong menuju dapur minimalis yang apa adanya.

Aku masih suka duduk sendiri disana. Mengingat banyak hal yang masih belum bisa ku sudahi. Aku pernah menyuguhkan secangkir teh dan bukan kopi. Segenap jiwa dan sepenuh hati. Kita bercakap ringan ditemani sisa tetesan hujan diluar tadi. Ah, semua itu abadi diingatanku.

Sampai hari ini, semuanya masih sama. Jalan dipersimpangan sana selalu basah jika hujan. Gang diujung itu masih sepi dan sempit. Rumah yang paling ujung pun tak berubah sama sekali. Dan ruangan didalamnya pun masih seperti yang dulu. Disana aku masih setia mengarsipkan kenangan tentangmu.

Mungkin itu salah satu sebabnya aku masih belum rela meninggalkannya. Sebab disetiap sudut kota kau selalu menggoreskan cerita. 

.
February 16th, 2019