Minggu, 17 Februari 2019

WAKTU SILAM

Jalan dipersimpangan sana masih sama, seperti pertama kali kau melewatinya. Kita berjalan berdua menyusuri jalanan basah selepas hujan reda. Selekas adzan maghrib berkumandang dari surau-surau disekitarnya.
 
Gang diujung sana masih seperti yang kau tau. Sempit.. sepi.. dengan deretan rumah yang layaknya kota-kota padat penghuni. Ku yakin sedikit banyak kau pasti masih mengingatnya.
Rumah yang paling ujung di gang itu juga masih sama. Rumah berlantai dua menghadap arah terbenamnya surya. Dengan cat putih dan pintu coklat. Yahh, aku masih tinggal disana. Entahlah, untuk melepasnya rasanya aku masih belum rela.

Ruangan didalamnya pun masih sama. Dengan meja kaca dan sofa hijau tua motif bunga-bunga. Sebuah televisi lama disebelah tangga. Diantaranya ada lorong menuju dapur minimalis yang apa adanya.

Aku masih suka duduk sendiri disana. Mengingat banyak hal yang masih belum bisa ku sudahi. Aku pernah menyuguhkan secangkir teh dan bukan kopi. Segenap jiwa dan sepenuh hati. Kita bercakap ringan ditemani sisa tetesan hujan diluar tadi. Ah, semua itu abadi diingatanku.

Sampai hari ini, semuanya masih sama. Jalan dipersimpangan sana selalu basah jika hujan. Gang diujung itu masih sepi dan sempit. Rumah yang paling ujung pun tak berubah sama sekali. Dan ruangan didalamnya pun masih seperti yang dulu. Disana aku masih setia mengarsipkan kenangan tentangmu.

Mungkin itu salah satu sebabnya aku masih belum rela meninggalkannya. Sebab disetiap sudut kota kau selalu menggoreskan cerita. 

.
February 16th, 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar