Senin, 12 November 2018

SEHABIS HUJAN

Hujan turun sejak sore tadi. Membasahi setiap sudut kota ini. Kini hanya meninggalkan jejak basah di jalan-jalan yang ku lewati.  Pernah ada cerita yang tercipta. Dijalan yang sama, di jalur yang sama. Cerita yang pada akhirnya tak punya arti apa-apa. Sudahlah ini rumit. Lupakan saja. . .
Gang menuju tempat tinggalku (Bording House) ada di ujung sana. Dari pertigaan masih lurus saja. Nanti silahkan ambil kiri dan tepatnya ada di paling ujung gang itu. Kau pasti akan menemukannya disana. Menghadap ke arah terbenamnya surya. Dengan pintu coklat dan jendela kaca-kaca.
Aku merogoh tas dan mencari sesuatu. Yahh, kunci pintu. Setelah membukanya, aku memasuki bangunan itu dan kembali menutupnya dengan segera. Lantas pergi kedapur dan menyalakan kompor untuk memasak air. Aku kembali ke ruang tamu dan menyalakan televisi. Entahlah apa yang sebenarnya ingin ku tonton. Setidaknya aku sedikit terhibur dengan tayangan yang menurutku monoton.
Beberapa saat kemudian, aku terduduk di sofa berwarna hijau ditemani secangkir teh tarik kesukaanku. Anganku masih saja melayang jauh. Tiba-tiba saja aku kembali bertemu dengan ingatan beberapa waktu lalu. Rasanya rindu, berada di ruangan yang sama, di sofa yang sama. Memecahkan tawa dan bahagia yang tiada terkira. Pernah. Yah, hanya sekedar pernah.
Begitupun masih ditempat yang sama. Di ruangan yang sama aku sering menghidangkan makanan yang ku masak sendiri untuk makan pagi, atau mungkin hanya sekedar keisengan untuk menemani menonton televisi di malam hari. Atau bahkan mungkin hanya sekedar untuk duduk bersama, bersendau-gurau menepis keheningan yang ada.
Masih di ruangan yang sama. Di tempat duduk yang sama. Aku pernah menyuguhkan secangkir teh manis untuk seseorang yang aku tau ia tak menyukai kopi. Menyodorkan sepiring nasi goreng untuknya makan malam, sebab aku tau Ia pun pasti belum makan. Tak lupa segelas air putih telah tersedia di meja. Salahnya hanya saja aku tak tau sebelumnya, bahwa ternyata rasa nasi gorengku terlalu pedas menurutnya.
Di ruangan yang sama. Kami mendengarkan sesuatu dari telepon genggamnya dengan ear phone yang sama. Tak ada duka hanya suka yang ada disana. Dengan sisa-sisa tetesan hujan di luar aku kembali teringat sebuah senyum yang pernah mengembang di bibirnya. Bahwasannya esok hari dan lusa kami akan sama-sama menempuh perjalanan, dan akulah seseorang yang paling bahagia.
Aku mendapati teh tarikku di meja telah berubah dingin. Anganku yang hangat pun hilang tertiup angin. Untuk terakhir kalinya aku kembali mengaduk teh tarikku. Dan segala yang terkenang pun turut larut dalam cangkirku.

Pwt, 9 Nov 2018

Kamis, 08 November 2018

KONSPIRASI HUJAN

Aku terbangun di suatu pagi. Ialah hari yang kini hampir menjadi rutinitas untuk segera kembali memenuhi kewajiban dibangku pendidikan tinggi.
Aah, rasanya malas sekali. Ternyata sejak pagi buta hujan pun tak kunjung berberhenti, padahal hari itu aku harus berangkat lebih awal dari biasanya. Yahh, memang hampir setiap akhir pekan aku kembali ke rumahku.
Dengan menerobos hujan aku tetap pergi hari itu. Tidak peduli apapun yang terjadi. Setelah menunggu beberapa saat, sebuah bus berhenti dan aku naik segera mencari tempat duduk yang tak berpenghuni.
Aku selalu senang duduk didekat jendela. Hal itu sudah ku lakukakan sejak lama. Hanya untuk bisa melihat keluar dan memanjakan mata dengan keindahan semesta.
Hujan masih tetap turun. Rintik airnya pun jatuh dan mengalir membasahi jendela bus. Aku mulai teringat sesuatu. Hujan yang jatuh di kaca jendela selalu mampu membangkitkan rindu.
Aku rindu banyak hal. Tak terlebih rinduku tentangnya. Rintiknya yang jatuh mengajari tentang bagaimana seharusnya mencintai. Dari hujan pun aku mempelajari tentang bahasa air, bagaimana berkali-kali jatuh dan tak pernah mengeluh pada takdir.
Ada masa dimana harus rela. Ada waktu dimana harus melupa. Ada saat dimana kita harus menerima. Dan pada akhirnya hanya waktu yang punya jawabnya.
Caraku mencintai seperti tetesan hujan yang turun ke bumi. Tak peduli seberapa banyak lagi harus jatuh dan cinta sendiri. Tetap tabah pun senantiasa memberi. Tanpa pernah memperhitungkan apa yang akan diterima pada akhirnya.
Suara hujan pun seperti mengalunkan suaramu. Yahh, mungkin itu hanya imajinasiku. Tersebab aku amat sangat merindu. Hingga berhalusinasi. Ahh, tapi terserah saja apa kata mereka. Aku tidak peduli.
Segala hal tentangnya, apa saja yang berpaut dengannya, sungguh, tanpa sepengetahuan siapapun aku selalu ingin tau. Dari yang ia suka sampai apa yang ia perlu.
Ahh, sungguh aku sampai lupa dan tak sadar. Bus yang ku tumpangi sudah sampai di tujuannya. Ternyata aku menangis sedari awal melihat hujan dikaca,
.
.
Sph-Pwt, Nov '18

KAMU

Aku memulai menyusun rangkaian konsonan vokal pada bait ini atas dasar manusia bernama kamu. Kamu adalah apa yang selalu ada disetiap bait-bait puisiku. Meski bukan untukmu tapi sering kali ia tercipta karenamu.
Aku hanya menjadi pemuja rahasia yang tak pernah terterka pada akhirnya. Menemukanmu pada jarak-jarak tertentu yang selalu menjadikanku semakin merindu. Merindukan segala tentangmu yang bahkan tak lekang ditelan waktu.
Bukan magnet. Bukan juga mutualisme. Menurutmu siapa yang salah? Sudahlah itu salahku. Salahku sendiri. Bukankah tak pernah ada yang menyuruhku melakukan yang aku mau? Tapi pada nyata jujurnya aku selalu dengan rela melakukan segala hal yang ku suka
Tak banyak yang bisa ku ingat ketika itu. Tapi kamu adalah satu yang tak pernah terlupa dalam setiap doaku. Yang selalu ku semogakan pada Tuhanku pada setiap sujud pada malam-malamku.
Bagaimana aku harus bersikap. Aku tidak bisa menerka dengan segala harap. Sebab teka-teki yang begitu sangat sulit di ungkap. Dan kita mungkin sama-sama tak siap.
Keegoisan yang kita lakukan terletak pada hati. Dimana kamu yang tak pernah membuka hatimu untukku. Dan aku yang sudah menutup rapat-rapat hatiku untuk siapapun itu selain kamu.
Dan kita. Pada akhirnya hanya menyemogakan apa saja yang membuat bahagia. Dimana bahagiaku sudah ku letakkan pada manusia bernama kamu.
.
.
.
Nsd, 8-8-18

AKHIR CERITA NEGERI JIRAN

Apa yang perlu diperbuat, perbuatlah. .!! Selagi kamu mampu. Selagi kamu bisa. Selagi kamu ingin. Selagi kamu merasa baik untukmu. Aku?? Aku pasti akan senang atas apa yang menjadi pilihan hidupmu. Sungguh. Jangan meragukan keputusanku. Karena pada nyata jujurnya bukan aku yang memulai. Dan bukan juga aku yang mengakhiri segalanya.
Katamu dulu aku adalah siapa yang kamu tunggu. Dan sejak awal aku pun sudah menjelaskannya kepadamu. Bahwasannya aku butuh waktu. Dengan tetap berjalan agar aku tau kebenaran dari itu. Dan aku?? Aku sudah menduga sejak awal mula. Bahwa bagiku Maha Setia hanya Penciptaku saja. Dan kamu?? Aku tau siapa kamu sebenarnya. Tiada bedanya dengan yang lainnya.
Terimakasih untuk waktu yang tersedia. Untukku. Untuk percakapan singkat kita. Untuk penjelasan yang masih membuatku menduga-duga. Tapi sungguh aku telah sejak lama pergi dengan rela. Ohh tidak..! Maksudku aku tidak pernah datang sebelumnya.
Maafkan aku, karena tidak pernah mampu membukakan pagar yang masih tekunci dengan rapi. Dan kita hanya bicara lewat tiupan angin yang membuatku semakin sadar. Bahwa aku tidak bisa menjadi seperti apa yang kamu ingin.
Maafkan aku. Karena pada akhirnya kita harus saling melupakan. Saling mengakhiri meskipun tanpa pernah memulai. Dan kamu hanya perlu menjadi seseorang yang lain. Tetap berdampingan meski tanpa pernah bergandengan.
Maaf. Pada akhirnya kamu pun harus mencari penggantiku. Melupakanku seiring waktu. Dengan menemukan dia yang kini bersamamu. Terimakasih sudah melepasku. Aku turut berbahagia. Karena kamu tidak lagi merasa kecewa dan putus asa. Tidak lagi menanggung perih didadamu hanya tersebab aku. Hanya demi aku yang mungkin bagimu tak tau diri. Yang sama sekali tak bisa membuka hati.
Dan kita. Kita akan tetap baik-baik saja. Berjalan seperti biasa. Bersama seperti sebelumnya. Dan tanpa beban yang membuat kita sama-sama terluka pada akhirnya. Teruslah melangkah meski tak satu tujuan. Karena melanjut hidup adalah keharusan. Tentunya, kamu dengan pilihan hidupmu dan aku dengan impian-impianku.
.
.
Putra Jaya, Malaysia, 01 Agustus 2018

DI BAWAH LANGIT JOGJAKARTA

Dibawah langit Jogjakarta aku kembali bercerita. Tentang bagaimana aku merasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Tentang prahara yang sedang ku rasa. Tentang banyak hal yang sedang ku pikirkan. Tentang apa-apa saja yang sedang memberatkan perasaan. Tentang segala sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak lama waktu. Dan disini aku ingin membebaskan segala beban itu.
Jujur saja aku sedang marah. Marah dengan segala hal. Aku marah pada diriku sendiri. Aku marah dengan papa mama. Aku marah dengan dunia. Aku benar-benar sedang marah dengan semuanya. Aahh.. Mungkin menurutmu aku gila. Memutuskan pergi seketika. Dalam waktu singkat dan begitu sangat nekat. Mungkin katamu aku sedang tak memakai akal sehat.
Sungguh, aku sedang lari dari kenyataan. Segala kenyataan yang aku sama sekali tidak sanggup menerimanya. Ketika segala harapan hidup yang selalu ku ucap dengan bangga. Semua asa yang selalu ku junjung setinggi-tingginya. Dan semuanya harus musnah sia-sia.
Tapi Jogjakarta sangat berbaik hati. Padanya aku bisa bercerita apapun yang aku suka. Dan nyatanya aku mampu sesaat merasa bahagia. Aahh, maafkan aku. Aku datang dengan segala resah. Dengan air mata yang harus tumpah. Egois memang. Tapi kali ini aku tidak ingin munafik hanya dengan berpura-pura sanggup seperti yang dulu-dulu. Sedang nuraniku menolak untuk itu.
Dan Jogjakarta tak pernah peduli apa yang dibawa padanya ketika datang. Ia hanya peduli manusia harus bahagia ketika pulang. Jogjakarta menguatkanku. Jogjakarta memberiku harapan baru. Jogjakarta menyadarkanku. Meskipun sempat menanggung kecewa, tapi bagiku tak mengapa. Dan dibawah langit Jogjakarta aku memberanikan diri untuk kembali bermimpi. Masih dengan impian yang sama. Masih dengan harapan yang sama. Dan kali ini segala impian itu ku kembalikan pada garis takdir. Bagaimana segala mimpiku nanti akan berakhir.
.
.
Jogjakarta, 9-7-18

SENJA TERAKHIR DI BEKASI

Satu setengah tahun yang lalu, ketika terakhir kali berada di bumi Perantauan kota Bekasi, hawa perjuangan itu masih begitu melekat di ingatanku. Dimana aku harus ekstra keras bertahan hidup di tengah hiruk pikuk suasana tanah rantau. Jika kamu pernah merasakan hidup menghambakan diri di bawah kaki bumi rantau pasti tau bagaimana rasanya tak diberi belas kasihan sang tuan. Maksudku kejamnya tanah rantau.
Masih berteduh dibawah langit yang sama. Dan menurutku hanya berbeda perdaban saja. Dimana aku telah mengukirkan banyak cerita hidup disana. Mengatur keseimbangan hidup dan menstabilkan diri tentunya. Layaknya larutan gula di mata pelajaran kimia, kehidupanku pun sempat menemui titik jenuh. Dihantam tekanan dan terus saja dihadapkan dengan problematika yang aku sempat tak menemukan solusinya. Oohh tidak, ini sudah terlampau batas kesabaranku pada waktu itu. Aku befikir harus segera mengakhirinya.
Nyatanya aku tak hanya memikirkan, tapi juga merealisasikan. Aku sempat bertahajud dan beristighoroh di sepertiga malam. Dan setelah memantapkan diri aku pun memutuskan pergi. Aku memang sempat ragu. Perihal keraguanku bernyawa setengah perjuangan yang belum terselesaikan. Lalu bagaimana pendapatmu ketika kamu menjalani sesuatu atas dasar setengah terpaksa?? Bukankah hanya akan menyakiti perasaanmu saja??
Entah sudah berapa banyak senja yang ku saksikan dengan air mata keterpaksaan disana. Nyatanya mata jingga bermuram durja. Aku sepi sendiri. Sedang manusia di sekitarku menjalani hidup tanpa beban derita. Aku iri dengan mereka. "Apa ini yang dinamakan penjara tanpa jeruji?". Meskipun sempat berat aku melangkahkan kaki dari tempat itu. Sebab bagian dari diriku, ceritaku, harapanku, cita-cita yang sempat ku ukirkan, separuh jiwa dan nyawaku masih tertinggal. Aku harus meninggalkan segala yang sudah ku bangun disana. Tapi aku tetap harus pergi. Pintu perjuangan baruku sudah terbuka. Tentu saja di tempat yang berbeda.
02 Januari 2017. Bersama kawan karibku (Bintari Agustina), aku kembali ke pangkuan bumi kelahiran. Bicara temanku satu ini, ia juga pengagum senja dan penggila jingga. Ketika aku menuliskan ini, sudah 4 tahun aku mengenalnya (2014-2018). Dan akhirnya setelah hampir satu tahun tak berjumpa dengannya (2016-2017), aku kembali mampu bercerita banyak hal dengan dia. Aku rindu perihal cerita-cerita konyol yang terlontar dari bibirnya yang selalu berakhir tawa. Dan hari itu, aku kembali menemukan sesuatu yang tak pernah aku dapatkan dimanapun selain darinya. Bahagia yang begitu sederhana. Tawa tulus tiada kesan terpaksa dan tanpa beban derita didalamnya. (Meskipun sering kali itu hanya pura-pura saja sebenarnya).
Kami duduk berdampingan. Memandang senja dan menuliskan cerita. Bersamanya hari itu, aku melepas segala tekanan hidup yang sempat ku tanggung sebelumnya. Melepas rindu dan membuka lembaran baru. Sembari menunggu bus yang akan kami tumpangi datang dan menelan semua penumpang. "Bye Bekasi, See You Next Time". Begitu status yang tercatat di Social Media. Dan senja menjadi saksi bahwa aku pergi dengan sebuah kata rela pada akhirnya.
Meninggalkan sesuatu yang baik untuk sesuatu yang lebih baik. Sesuatu yang menjadi tujuan. Menurutku bukan sebuah kesalahan. Ini bukan perihal konsistensi. Hanya saja tentang bagaimana seharusnya menentukan pilihan hidup dan fokus terhadap tujuan. Meskipun kadang-kadang egois menurut cara pandang orang, tapi masa depan tergantung bagaimana keputusanmu mulai dari sekarang.
.
.
Nusadadi, Sumpiuh, 25/06/18

SEPENGGAL KISAH DARI BUMI PERANTAUAN

Apakah kamu tau, rasanya ketika kamu tidak pernah mendapatkan apa yang kamu mau?? Kamu pernah?? Kita sama. Perihal cinta misalnya? Kamu menyukainya sejak lama dan ia tak pernah tau tentang hal itu. Atau bahkan mungkin kau menyukainya tetapi ia memilih orang lain menjadi tempatnya pulang. Itu menyakitkan sekali bukan??
Aku ingat ketika 2 tahun lalu. Ketika tanah rantau menjadi persinggahan hidupku pada waktu itu. Menjadi tempat pelarian bagiku dari kekejaman dunia yang tak berpihak dengan jalan pikiranku. Aku melabuhkan hidup dibahunya. Saat itu seseorang mengajakku pulang bersamanya ke kampung halaman. Hingga ia akan menanggung semua biaya kepulanganku. Seseorang yang tak ku sangka-sangka akan mengucapkan hal itu. Aku sangat senang dengan ajakannya. Terlebih ia adalah seseorang yang ku sukai sejak lama waktu. Aahh, jika kau di posisiku, apa jawaban yang akan kau berikan padanya?? Pasti tak bisa menolak bukan?? Begitu pun dengan hatiku mengatakannya.
Tapi pada kenyataannya aku menolaknya. Bukan karena aku tidak mau. Tapi keadaan yang sangat tidak memungkinkan untuk pulang. Aku masih mengejar target kehidupanku kedepannya. Meskipun pada kenyataannya keberadaanku di tanah rantau memang sedang gusar dan buyar. Tapi entahlah, perasaanku mengatakan hal lain atas kepulangannya itu. Kepulangan yang terkesan mendadak dan bahkan waktunya begitu singkat.
Dan di saat aku merasa bersalah padanya karena telah mengecewakannya, beberapa hari kemudian aku tau perihal kepulangannya. Adalah menyatakan cintanya kepada seseorang yang sudah menjadi pilihan hatinya yang kesekian kali. Jika kau berada di posisiku pada waktu itu apa perasaanmu?? Lalu bagaimana denganku waktu itu jika aku menerima ajakannya?? Apakah aku akan bunuh diri di rel kereta?? Atau aku akan berdiri di jalan raya menanti sebuah bus menabrakku?? Atau aku akan loncat dari atas bukit yang tinggi?? Atau mungkin aku gantung diri di atas gedung?? Entahlahh. .!!
Yang ku tau perasaan hatiku begitu sangat hancur ketika itu. Seperti halnya sedang mendaki gunung, menikmati hawa dingin dan indahnya pemandangan, tiba-tiba diterpa badai yang begitu besar. Yang menahan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Tapi apa yang bisa aku lakukan?? Tentang aku mencintainya, biar saja itu menjadi urusanku. Dan bagimana dia terhadapku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Terserah padanya saja untuk itu. Nyatanya aku harus melanjut hidup dan menggapai sesuatu yang menjadi tujuan awalku. Masih banyak yang belum aku bereskan.
Bumi perantauan begitu mengajarkan banyak hal bagiku. Bagaimana seharusnya memaknai hidup. Hingga perihal asmara, mengapa dan bagaimana seharusnya bersikap dewasa dalam hal cinta. Urusan cinta adalah poin ke sekian dari list hidup (menurutku). Dan mengapa pada waktu itu aku tak menuruti keinginan sesaat?? Sebab aku merasa sedang diuji perihal prioritas. Meskipun aku ingin, tetapi jika tak berizin apa yang bisa dilakukan?? Aku mungkin tidak mendapatkan apa yang aku inginkan, tapi nyatanya Tuhan telah memberikan berlipat ganda segala sesuatu yang aku butuhkan.
.
.
Nusadadi, Sumpiuh 24/06/18

BE MY SELF

Perlu kah mendengar kata orang lain..?? Perlu. Bahkan sangat perlu. Yang tidak perlu hanyalah melakukan semua hal yang mereka katakan. Yang harus digaris bawahi disini adalah kata SEMUA. Karena tidak semua yang kita pikirkan sama dengan pemikiran mereka. Setiap manusia memiliki cara pandangnya. Ini hanya tergantung kita. Apakah menurut kita kata mereka benar? Apakah kata mereka perlu diperbuat? Apakah sejalan dengan tujuan kita? Silahkan dicerna dalam-dalam.
Perihal hidupku biar Tuhan yang menjadi sutradaranya. Aku pasrah dan tawakkal saja. Karena aku hanya manusia pemeran opera-Nya. Dan aku tak pernah mampu menolak kehendak yang sudah tercatatkan di lauhul mahfudz yang bahkan sudah digariskan sebelum aku dilahirkan. Hanya saja aku diwajibkan untuk berusaha.
Sejauh ini aku bukanlah manusia berpunya. Tapi aku sangat bersyukur pada Tuhan karena telah mencukupkan. Tak bisakah komentar netizen tentang semua hal yang cukup menjatuhkan di delete saja dan digantikan dengan semangat dan motivasi misalnya?? Menurutku itu lebih berguna. Ahh, sudahlah biar saja mereka berekspresi dengan dunianya. Mungkin dengan cara itu mereka bisa berbahagia.
Disini aku punya tujuan. Tujuanku bukan tentang apa kata mereka. Tapi tentang apa yang aku mau. Bahkan aku sudah memilih apa yang menjadi keinginanku. Aku sama sekali tak butuh pendapat mereka untuk mempertimbangkan, sebab aku sudah memperhitungkannya berulang kali sebelum pada akhirnya aku mengambil keputusan. Meskipun keputusan yang ku perjuangkan pada akhirnya sangat ditentang sedemikian sadis dan begitu dalam. Bahkan hingga detik ini.
Aku sama sekali tak peduli dengan penolakan mereka untuk mengakui kemampuan yang sering mereka remehkan. Meskipun ini sudah berjalan dan jelas tampak di depan mata mereka. Penonton hanya mampu bertepuk tangan. Sedang pejuang ini mati-matian mengukirkan prestasi dan pengakuan. Tapi biarlah, karena penonton tak akan pernah menjadi seorang pemain yang sesungguhnya. Apakah salah jika hanya baru kalah start?? Tohh belum tentu kalah finish juga.
Memang kenapa jika (kata mereka) hidupku sengsara.?? Lalu dengan gampangnya mereka mencaci dengan banyak cara. Dan apakah disini yang dipandang sebagai manusia hanya yang berharta. .??
Baiklahh, aku berjanji. . jika telah mendapat apa yang aku inginkan nanti, akan ku buktikan kesangsian yang mereka beratkan selama ini.
.
Nusadadi, Sumpiuh, 23 Jun 18

TIADA SENJA

Matahari pagi dan sore hari ini sama saja. Tak ingin menampakkan diri. Manusia penikmat senja ini agak kecewa. Nyatanya manusia ini sedang rindu. Rindu akan jingga yang membuatku selalu jatuh cinta.
Senja selalu menghadirkan cerita yang tak biasa. Perihal kagum mengagumi. Dan diabaikan tanpa henti. Seperti biasanya, aku tak bisa menghilangkan rasa sepi. Yaahh. . . ini perihal sendiri saja. Tanpa kehadirannya.
Sore ini, tak banyak yang bisa ku katakan. Pikiranku hanya tentang kehilangan. Ahhh, apakah ini rasanya kehilangan?? Bahkan aku sama sekali tak pernah memiliki.. Bodoh sekali. .
Senjaku sore ini tak mau menghadirkan diri sama sekali. Sudahlah aku sepertinya harus pulang dengan lapang. Karena hembusan angin sore yang tak ingin ku tetap berdiri menunggu ketidakpastian. Menunggu sesuatu yang sepertinya tak layak disemogakan.
.
.
Cilacap-Kebumen, 22 Jun 18