Dibawah langit
Jogjakarta aku kembali bercerita. Tentang bagaimana aku merasa jatuh
sejatuh-jatuhnya. Tentang prahara yang sedang ku rasa. Tentang banyak
hal yang sedang ku pikirkan. Tentang apa-apa saja yang sedang
memberatkan perasaan. Tentang segala sesuatu yang mengganggu pikiranku
sejak lama waktu. Dan disini aku ingin membebaskan segala beban itu.
Jujur saja aku sedang
marah. Marah dengan segala hal. Aku marah pada diriku sendiri. Aku marah
dengan papa mama. Aku marah dengan dunia. Aku benar-benar sedang marah
dengan semuanya. Aahh.. Mungkin menurutmu aku gila. Memutuskan pergi
seketika. Dalam waktu singkat dan begitu sangat nekat. Mungkin katamu
aku sedang tak memakai akal sehat.
Sungguh, aku sedang
lari dari kenyataan. Segala kenyataan yang aku sama sekali tidak
sanggup menerimanya. Ketika segala harapan hidup yang selalu ku ucap
dengan bangga. Semua asa yang selalu ku junjung setinggi-tingginya. Dan
semuanya harus musnah sia-sia.
Tapi Jogjakarta sangat
berbaik hati. Padanya aku bisa bercerita apapun yang aku suka. Dan
nyatanya aku mampu sesaat merasa bahagia. Aahh, maafkan aku. Aku datang
dengan segala resah. Dengan air mata yang harus tumpah. Egois memang.
Tapi kali ini aku tidak ingin munafik hanya dengan berpura-pura sanggup
seperti yang dulu-dulu. Sedang nuraniku menolak untuk itu.
Dan Jogjakarta tak
pernah peduli apa yang dibawa padanya ketika datang. Ia hanya peduli
manusia harus bahagia ketika pulang. Jogjakarta menguatkanku. Jogjakarta
memberiku harapan baru. Jogjakarta menyadarkanku. Meskipun sempat
menanggung kecewa, tapi bagiku tak mengapa. Dan dibawah langit
Jogjakarta aku memberanikan diri untuk kembali bermimpi. Masih dengan
impian yang sama. Masih dengan harapan yang sama. Dan kali ini segala
impian itu ku kembalikan pada garis takdir. Bagaimana segala mimpiku
nanti akan berakhir.
.
.
Jogjakarta, 9-7-18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar