Kamis, 08 November 2018

DI BAWAH LANGIT JOGJAKARTA

Dibawah langit Jogjakarta aku kembali bercerita. Tentang bagaimana aku merasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Tentang prahara yang sedang ku rasa. Tentang banyak hal yang sedang ku pikirkan. Tentang apa-apa saja yang sedang memberatkan perasaan. Tentang segala sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak lama waktu. Dan disini aku ingin membebaskan segala beban itu.
Jujur saja aku sedang marah. Marah dengan segala hal. Aku marah pada diriku sendiri. Aku marah dengan papa mama. Aku marah dengan dunia. Aku benar-benar sedang marah dengan semuanya. Aahh.. Mungkin menurutmu aku gila. Memutuskan pergi seketika. Dalam waktu singkat dan begitu sangat nekat. Mungkin katamu aku sedang tak memakai akal sehat.
Sungguh, aku sedang lari dari kenyataan. Segala kenyataan yang aku sama sekali tidak sanggup menerimanya. Ketika segala harapan hidup yang selalu ku ucap dengan bangga. Semua asa yang selalu ku junjung setinggi-tingginya. Dan semuanya harus musnah sia-sia.
Tapi Jogjakarta sangat berbaik hati. Padanya aku bisa bercerita apapun yang aku suka. Dan nyatanya aku mampu sesaat merasa bahagia. Aahh, maafkan aku. Aku datang dengan segala resah. Dengan air mata yang harus tumpah. Egois memang. Tapi kali ini aku tidak ingin munafik hanya dengan berpura-pura sanggup seperti yang dulu-dulu. Sedang nuraniku menolak untuk itu.
Dan Jogjakarta tak pernah peduli apa yang dibawa padanya ketika datang. Ia hanya peduli manusia harus bahagia ketika pulang. Jogjakarta menguatkanku. Jogjakarta memberiku harapan baru. Jogjakarta menyadarkanku. Meskipun sempat menanggung kecewa, tapi bagiku tak mengapa. Dan dibawah langit Jogjakarta aku memberanikan diri untuk kembali bermimpi. Masih dengan impian yang sama. Masih dengan harapan yang sama. Dan kali ini segala impian itu ku kembalikan pada garis takdir. Bagaimana segala mimpiku nanti akan berakhir.
.
.
Jogjakarta, 9-7-18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar